LINK TEMAN

Jumat, 11 November 2011

KENDARAAN TRADISIONAL

CIDOMO
LOMBOK UTARA, - Bupati Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Djohan Sjamsu mewacanakan akan mengganti alat transportasi wisata kuda yang biasa digunakan wisatawan untuk berkeliling melihat keindahan alam Gili Trawangan dengan "golf car" atau mobil yang biasa dipakai di lapangan golf.
"Kalau pakai kuda memang terlihat agak tradisional, tetapi dari sisi kebersihan lingkungan kurang. Kalau pakai ’golf car’ akan terlihat bersih dan juga tidak menyebabkan polusi ," katanya pada acara pembukaan pameran pembangunan dan potensi investasi di lapangan umum Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Rabu (2/11/2011).
Ia mengatakan penggunaan alat transportasi modern di Gili Trawangan, Kecamatan Pemenang, akan diterapkan pada 2012. Pengadaan alat transportasi itu menjadi kewenangan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Lombok Utara.
Penggunaan moda transportasi yang lebih canggih untuk menggantikan alat transportasi hewan sebagai salah satu upaya mengembangkan pariwisata di Gili Trawangan. Gili Trawangan yang luasnya mencapai 340 hektare (ha) merupakan salah satu dari tiga pulau kecil yang ada di Kabupaten Lombok Utara, selain Gili Air yang luasnya mencapai 150 ha dan Gili Meno yang luasnya juga mencapai 150 ha.
"Tiga gili itu sudah menjadi ikon pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sudah menjadi milik dunia karena banyak wisatawan asing yang berkunjung. Untuk itu, kita harus menjaganya dari semua aspek, baik itu kebersihan dan stabilitas keamanan," ujarnya.
Seperti diketahui, Gubernur NTB H M Zainul Majdi menyurati Bupati Lombok Utara, terkait dengan protes sejumlah wisatawan dan masyarakat penyayang binatang, bahwa kuda penarik cidomo (kendaraan khas di NTB) yang ada di obyek wisata Gili Trawangan, Meno dan Air, hidup tersiksa.
"'Penyiksaan' binatang itu juga dianggap akan mengurangi pesona, daya tarik, atraksi dan panorama alam yang sudah bagus," katanya.
Cidomo merupakan satu-satunya alat transportasi di obyek wisata Gili Terawangan, Meno, dan Gili Air. Tidak ada kendaraan bermotor, agar tidak terjadi polusi di obyek wisata yang menjadi ikon pariwisata NTB itu.
Seperti dikutip dari Antara, para wisatawan mancanegara yang mengunjungi obyek wisata terkenal tersebut memprotes perlakuan tidak layak kepada hewan tersebut. Bahkan organisasi penyayang binatang "Jakarta Animal Aid Network" (JAAN) mengaku pada tahun lalu menerima banyak komplain dari para wisatawan tentang perlakuan buruk terhadap kuda yang menjadi satu-satunya alat transportasi di obyek wisata tiga gili tersebut.
Informasi serupa juga diperoleh dari "People for the Ethical Treatment of Animals" (PETA) dengan menyebut kuda-kuda yang bekerja sebagai penarik cidomo di pulau-pulau itu menjalani hidup sengsara. Selain itu kuda-kuda tersebut juga tidak mendapat tempat perlindungan dari matahari selama jam kerja dan tidak ada dokter hewan yang akan menangani kuda jika sakit, serta tidak ada tukang besi yang membuat sepatu kuda di pulau tersebut.
Beberapa pemilik juga tidak memotong kuku kudanya, dan ironisnya hewan tersebut hanya disediakan air asin untuk minum karena para pemilik tidak membeli air bersih untuk minum kuda tersebut. Kondisi itu mengakibatkan masa hidup rata-rata kuda di Gili Trawangan hanya tiga tahun, sementara kuda di tempat lain biasanya dapat mencapai usia empat puluh tahun lebih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar